Emak Ingin Naik Haji
.
Berkisar pada perjuangan seorang emak dan anaknya untuk mewujudkan mimpi
naik haji. Untuk pertama kalinya, sebuah film diangkat dari cerpen dan
bukan novel. Cerpenisnya tentu saja terkenal di kalangan pecinta sastra
Islami, yaitu Asma Nadia.
Alkisah adalah seorang pemuda bernama
Zein (Reza Rahadian) yang berprofesi sebagai pelukis. Ia tinggal bernama
emaknya (diperankan aktris drama lawas Aty Kanser/Cancer) dalam keadaan
serba berkekurangan. Cerita dibuka dengan Zein yang tengah melukis
Ka’bah tertidur hingga waktu shubuh tiba dan dibangunkan oleh emak.
Penggambaran adegan ini oleh sutradara Aditya Gumay cukup menyentuh,
apalagi mengingat kondisi rumah mereka yang layak mendapatkan santunan
program semacam “Bedah Rumah”: sangat sederhana.
Lukisan itu akhirnya tidak termasuk
lukisan yang dijual oleh Zein, melainkan digantung di dinding rumahnya
yang kumuh dan terbuat dari triplek. Dari sini, saya merasa aneh,
alangkah tidak pantasnya lukisan sebagus itu digantung di dinding
sejelek itu. Tapi itulah film. Kelemahan itu masih nampak lagi nanti,
saat adegan Zein sedang menjual lukisannya di pinggir jalan. Karena bagi
saya yang cukup tahu harga lukisan dan pigura, agak aneh ada lukisan
-apalagi lukisan kaligrafi- dijual cuma seharga 200-300 ribuan, apalagi
lukisannya setara lebar kertas A1. Harusnya di sini agak lebih teliti.
Saat Zein sedang berupaya membantu
emaknya inilah datang mantan istrinya meminta uang karena anaknya yang
bernama Akso sakit. Ada dialog lucu di sini, saat istrinya meminta uang
dan Zein menukas kenapa tidak meminta sama suaminya yang pegawai negeri.
Malah dibalas si mantan istri yang di sini jadi tokoh antagonis selain
seorang politikus yang nanti akan saya ceritakan dengan menjelaskan
kesialan si suami yang motornya hilang sementara uang kreditannya masih
nyicil dari kantor. Zein kemudian mengejek sang mantan istri, “Dulu lu
ninggalin gue karena duit. Sekarang kawin sama laki yang juga kagak
beduit. Gimana sih?” Saya tersenyum simpul sih lebih karena ingat
pengalaman pribadi (eits, curcol alert!).
Nah, si mantan istri tak tahu diuntung
ini kemudian yang menghabiskan uang tabungan si emak yang baru
disetorkan lima hari sebelumnya ke bank yang jadi sponsor film ini.
Alasannya lagi-lagi karena si Akso anaknya Zein sakit. Maka, melayanglah
5 juta tabungan si emak bertahun-tahun dalam semalam. Dan sesudah
uangnya diberikan, emak kemudian membaca Al-Qur’an di dalam kamar dengan
suara parau sambil menangis. Saya ikut menangis di adegan ini,
menyadari sulitnya mendapatkan uang dalam hidup apalagi bagi orang
seperti emak, ditambah kerinduan saya yang sama dengan emak terhadap
tanah suci. Saat Zein melihat emaknya mengaji sambil menangis, ia
bertekad mendapatkan kembali uang emak yang 5 juta itu.
Dalam upaya mendapatkan kembali uang lima
juta itu, Zein berupaya mencuri uang dari juragan haji Saun (diperankan
Didi Petet). Ini adalah tokoh protagonis seorang muslim pengusaha
kampung yang kaya raya. Digambarkan saking kayanya saat itu mereka
hendak berumrah keenam kalinya, sementara haji sudah tiga kali. Saya
sangat suka saat digambarkan kontras itu, karena keluarga emak ternyata
seringkali diminta membantu keluarga juragan haji Saun. Terutama saat
ada perayaan, seperti ratiban menjelang keberangkatan umrah mereka itu.
Lucunya, anak-anak mereka ‘nyeleneh’, sebuah penggambaran realita yang
apik. Yang sulung lelaki bernama Dika, masih duduk di bangku SMA dan
menemukan konflik dalam pelajaran agama yang diterimanya dengan
informasi yang didapatnya dari internet.
Sementara yang bungsu perempuan
(namanya saya lupa) dan masih duduk di bangku SMP, ternyata ingin umrah
karena perginya bersama Dude Herlino, bahkan ia menyiapkan kostum
khusus untuk berfoto bersama Dude di Mekah nanti. Ada bloopers dari
dialog karakter ini saat ia membatalkan rencana umrah dirinya dan
keluarganya hanya karena Dude batal berangkat. Biro perjalanan haji yang
juga sponsor film ini ditampakkan jelas suasana kantornya pun tidak
berupaya mengkonfirmasi kepada juragan haji Saun dan hanya pasrah saat
si anak yang masih SMP dengan jumawa membatalkan rencana umrah. Aneh!
Kembali ke Zein yang sempat ingin mencuri
tas juragan haji Saun karena saat ia membantu istri juragan haji
berbelanja di supermarket ia melihat sang haji sedang menghitung uang
yang banyak di dalam koper. Saat berbelanja inilah Zein ternyata
memungut kembali kupon undian yang dibuang bu Haji. Kupon itu didapat
karena berbelanja sebanyak lebih dari tiga juta dan berhadiah umroh.
Nah, si Zein yang di malam hari usai berbelanja itu kembali masuk ke
dalam rumah juragan haji Saun dan berhasil masuk ke dalam kamar. Namun
ia urung mencuri saat melihat ada Al-Qur’an tergeletak di kasur dalam
keadaan terbuka. Zein ingat kembali pada emaknya, suara mengaji emaknya
terngiang. Haji Saun memang sedang membaca Al-Qur’an saat mendengar
suara berisik yang ditimbulkan Zein untuk kemudian turun meminta hansip
mengecek. Zein sempat dikejar orang-orang yang menyadari ada maling,
namun berhasil lolos. Di sini walau memenuhi keinginan penonton, adegan
lolosnya Zein dari kejaran orang sekampung juga agak aneh sebenarnya.
Kalau dua kisah yaitu keluarga emak dan
juragan haji Saun sudah bertemu di awal film, ada karakter lain yaitu
politikus korup bernama Joko Satrianto yang ingin naik haji cuma karena
hendak memasang titel “H” di depan namanya. Gunanya adalah agar ia
memenangkan pilkada sebagai walikota tahun depan. Pemasangan karakter
ini membuat film ini bak film festival ala JIFFEST karena menggunakan
pola multi-plot script. Saya jadi teringat Crash (2004) atau Collateral (2004) jadinya, walau tentu kerumitan ceritanya tak sebanding.
Bagusnya, tanda tanya mengapa tokoh ini
dimunculkan baru terjawab menjelang akhir film. Kupon undian yang
diambil Zein dari tempat sampah hypermarket segera diisi olehnya pasca
ia berhasil masuk rumah meloloskan diri dari kepungan orang sekampung
yang mengejarnya karena berusaha mencuri di rumah juragan haji Saun. Dan
ternyata kupon itu kemudian berhasil memenangkan undian. Celakanya,
saat berusaha mencari emak untuk mengabarkan kabar gembira ini, ia
tertabrak mobil si politikus. Dan kejadian pasca tertabraknya Zein
inilah yang kemudian membawa cerita pada akhir film yang bagi saya agak
klise.
Khusus untuk politikus ini, saya acungi
jempol pada detail cerita yang jelas ada dalam realita dimana ia
ternyata selingkuh dengan sekertarisnya. Perselingkuhan ini kemudian
diketahui istrinya (diperankan Henidar Amroe dengan baik) karena
BlackBerry si sekertaris ketinggalan di mobil sang politikus. Sang istri
kemudian mencoba memeras suaminya sendiri dengan mengancam bila tidak
memenuhi akan disebarkan lewat media. Tapi, sang suami tidak tahu kalau
yang memeras adalah istrinya sendiri sampai supirnya memberitahu. Dan
saat sedang bertengkar dengan istrinya itulah ia menabrak Zein. Yang
membuat saya suka dari detil tokoh antagonis ini adalah foto-fotonya
sedang bermesraan dengan sang sekertaris amat mirip dengan foto-foto
asli yang ada dalam realitas berita tentang Max Moein, anggota DPR-RI
dari FPDIP yang dipecat oleh BK-DPR karena masalah yang sama.
Pendek cerita, film ini happy ending kok. Cuma agar menghindari kategori spoiler alert,
maka ending film tidak saya ceritakan. Yeah, lumayan kok buat memberi
semangat agar terus berjuang dalam hidup! Apalagi bagi saya yang kadar
imannya masih cetek, apalagi duitnya. Semoga ALLAH memberi semangat dan
keberkahan bagi orang-orang yang berjuang!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar